Monday, July 28, 2008

ANDA-TANDA KIAMAT

Hudzaifah bin As-yad al-Ghifary berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad S.A.W kepada kami lalu bertanya, "Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?"
Lalu kami menjawab, "Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat."
Sabda Rasulullah S.A.W. "Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda :-

1.. Asap
2.. Dajjal
3.. Binatang melata di bumi
4.. Terbitnya matahari sebelah barat
5.. Turunnya Nabi Isa A.S
6.. Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
7.. Gerhana di timur
8.. Gerhana di barat
9.. Gerhana di jazirah Arab
10.. Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.
Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam A.S sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa sahaja perkara-perkara yang luar biasa. Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan 'Ini adalah orang kafir'.

Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka.
Binatang melata yang dikenali sebagai Dabatul Ard ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa A.S dan cincin Nabi Sulaiman A.S.
Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu 'Ini adalah orang yang beriman'. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah 'Ini adalah orang kafir'.
Turunnya Nabi Isa. A.S di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa A.S akan menjalankan syariat Nabi Muhammad S.A.W.
Yakjuj dan Makjuj pula akan keluar, mereka ini merupakan dua golongan. Satu golongan kecil dan satu lagi golongan besar. Yakjuj dan Makjuj itu kini berada di belakang bendungan yang dibangunkan oleh Iskandar Zulqarnain. Apabila keluarnya mereka ini, bilangannya tidak terhitung banyaknya, sehingga kalau air laut Thahatiah diminum nescaya tidak akan tinggal walau pun setitik.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, " Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit sahaja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq"
Berkata Ali bin Abi Talib, Akan datag di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya sahaja, agama hanya bentuk sahaja, Al-Qur'an hanya dijadikan bacaan sahaja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat."
Sabda Rasulullah S.A.W, "Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamata."

Friday, June 27, 2008

Kenapa Anak Perlu Dicium ?

Thursday, June 26, 2008

Keistimewaan yang bakal diperoleh apabila anak-anak anda boleh digelar kanak-kanak atau kupu-kupu syurga. Barangsiapa yang mengembirakan anak
perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah. Orang yang menangis takutkan Allah diharamkan oleh Allah
akan api neraka ke atas tubuhnya.

Ciumlah anakmu kerana pahala setiap ciuman itu dibalas dengan satu darjat syurga. Nisbah di antara dua darjat ialah 500 darjat. Syurga itu ialah sebuah kampung kesenangan, tiada masuk ke dalamnya melainkan orang yang menyukai kanak-kanak.

Barangsiapa keluar ke pekan Muslim dan membeli barang-barang dan kembali ke rumah dengan buah tangan untuk anak-anaknya, nescaya mendapat rahmat daripada Allah dan tidak diseksa di Akhirat kelak. Muliakan anak-anak dengan mengajar mereka adab dan ilmu agama.


Barangsiapa memuliakan anak-anaknya dalam keadaan jahil dia turut menanggung tiap-tiap dosa yang dilakukan oleh anaknya itu dan barangsiapa membekalkan anaknya itu turut diperolehinya.

Aqrak pernah terlihat Nabi SAW mencium cucu baginda Hassan. Aqrak berkata;
"Anakku sepuluh orang banyaknya, namun tiada seorang pun yang pernah aku cium." Sabda Nabi SAW; "Orang yang tidak menyayangi tidak pula akan
disayangi."

Barangsiapa ke pasar dan membeli sesuatu barang untuk ahli keluarganya dan dia memikulnya ke rumah; pahalanya seperti dia memikul sedekah untuk orang yang sangat berhajat. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail .

Seorang lelaki bertanya; "Ya Rasulullah, kepada siapakah harus aku berbakti?"
Jawab baginda; "Berbaktilah kepada ibu bapamu."
Kata lelaki itu lagi; "Ibu bapaku sudah tiada lagi."
Sabda Nabi SAW; "Kalau begitu berbaktilah kepada anakmu, ibubapa berhak terhadap dirimu dan anakmu pula berhak ke atas dirimu."

Wednesday, June 25, 2008

Islam True Of Life

Islam-The Light
Not Just A Religion
The Most Beautiful Way of Life

Excellent Islamic Essays and Articles

The Qur'an

"O my servants who have wronged themselves, never despair of the mercy of Allah - for truly He forgives all sins. He is the Forgiving, the Merciful."

[al-Qur'an 39:53]

Latest Additions : How One Becomes Muslim-new!!

The Bidaa and wrong in celebrating the Prophet's birthday-new!!

Following the Footsteps of a Beautiful Man

Note: Throughout this page, many ayahs [verses] from the Qur'an are given. However, make note that these ayahs are merely translated. The Qur'an is the direct word of God in the Arabic language.

"O Lord, increase me in knowledge"

This website was made with the Intention of Pleasing Allah (SWT) *All sources are listed at the end of each page that needed them. I did my best to make sure that Everything was legit. Please correct me If something on here is incorrect. Wa'llahu A3lam. JazakumAllahu khairan

Peace and Mercy of Allah Be unto you

Ustaz Dr Harun Din - Marikh Berputar Berlawanan Arus

Tuesday, June 24, 2008

Siapakah Wali Allah ?

Penjelasan Hadits Ke-38 Arba’in An Nawawiyah: Siapakah Wali Allah ?
Oleh: Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh
Diterjemahkan oleh: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)
Murojaah: Ustadz Aris Munandar


وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: إن الله تعالى قال: من عاد لي وليا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلى عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته، كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، ولئن سألني لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه رواه البخاري


Dari Abu Huriroh rodhiAllahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)


Penjelasan

Hadits ini merupakan hadits yang sangat agung. Rasulullah bersabda, [Allah ta’ala berfirman] hal ini menunjukkan bahwa hadits ini adalah hadits Qudsi. [Barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi] yaitu menjadikan wali Allah sebagai musuh yang ia benci. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini jika seseorang membenci wali Allah kerana agamanya. Adapun, jika ia memusuhi wali Allah kerana perkara dunia sehingga terjadi perselisihan di antara mereka, maka hal seperti ini perlu dirinci. Pertama, Jika perselisihan tersebut menimbulkan kebencian maka dikhawatirkan orang tersebut akan termasuk dalam ancaman hadits ini. Kedua, jika perselisihan tersebut terjadi tanpa menimbulkan rasa kebencian, maka tidak termasuk dalam makna hadits ini, yaitu orang tersebut tidak menjadi orang yang diumumkan bahwa ia akan diperangi. Demikianlah, penghulu para wali umat ini pun saling berselisih. Abu Bakar dan Umar pernah berselisih dalam beberapa kesempatan. Sahabat Abbas pernah berselisih dengan sahabat Ali sampai perkaranya dibawa ke pengadilan dan beberapa kasus lainnya.

Terjadinya perselisihan tanpa diiringi kebencian kepada wali Allah, bukanlah yang dimaksud dalam hadits ini. Adapun jika ia membenci salah seorang wali Allah, maka orang ini layak diperangi. Allah jalla wa ‘ala telah mengizinkannya untuk diperangi dengan peperangan yang berasal dari Allah. Izin Allah untuk memerangi maknanya adalah bahwa orang tersebut diketahui akan mendapatkan hukuman dari Allah. Peperangan dari Allah maknanya adalah diturunkannya azab dan siksa Allah pada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, [Barang siapa memusuhi wali-Ku]. Istilah Wali menurut Ahlusunnah wal Jamaah adalah setiap mukmin yang bertakwa dan bukan Nabi. Inilah definisi Wali menurut Ahlusunnah wal Jamaah yaitu bahwa Wali adalah setiap orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan.
kerana derajat keimanan dan ketakwaan bertingkat-tingkat, maka derajat kewalian –yaitu kecintaan dan pertolongan Allah pada hamba-Nya- juga bertingkat-tingkat. Yang dimaksud dengan wali adalah orang yang senantiasa menyempurnakan keimanan dan ketakwaan sesuai dengan kemampuannya serta sebagian besar kondisinya berada dalam keimanan dan ketakwaan. Hal ini berdasarkan firman Allah jalla wa ‘ala,


أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ


“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)

Allah menyebutkan bahwa wali-Nya adalah orang yang beriman dan bertakwa. Barang siapa yang memusuhi orang mukmin, bertakwa yang selalu menyempurnakan keimanan dan ketakwaan sesuai dengan kemampuannya dan tidak terdapat celaan yang mengurangi kesempurnaan iman dan takwanya maka dia diizinkan untuk diperangi. Yaitu bahwa dia diketahui dan diancam dengan siksaan dari Allah jalla wa ‘ala. Kerana Wali tersebut dicintai dan ditolong oleh Allah jalla wa ‘ala dan kita wajib untuk mencintai orang tersebut kerana Allah cinta padanya.

Kemudian Allah berfirman, [Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan]. Yaitu bahwa bentuk taqorrub (pendekatan diri) seorang hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah menunaikan kewajiban. Inilah bentuk taqorrub yang paling dicintai oleh Allah. Seperti sholat lima waktu, menunaikan zakat, melaksanakan puasa wajib, melaksanakan haji yang wajib dan perkara lainnya yang telah diwajibkan oleh Allah kepada seorang hamba. Hal merupakan perkara yang paling dicintai Allah jalla wa ‘ala.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada sebagian orang. Orang tersebut merasakan khusyuk dan tunduk ketika mengerjakan perkara yang sunnah tidak sebagaimana yang terjadi ketika mengerjakan perkara yang wajib. Hal ini menyelisihi ilmu. Sebagaimana disebutkan pada hadits qudsi ini bahwa Allah jalla jalaaluh mencintai bahkan lebih mencintai seorang hamba yang bertaqorrub dengan amalan yang wajib. Allah mewajibkan perkara-perkara yang fardhu kerana Allah suka jika seorang hamba beribadah pada-Nya dengan perkara wajib tersebut.
Kemudian Allah berfirman:

[Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya].

Yaitu hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara yang sunnah –yaitu perkara sunnah dalam ibadah setelah menunaikan perkara yang wajib- sehingga Allah jalla wa ‘ala mencintainya. Dia disifati sebagai orang yang banyak melakukan amalan sunnah kerana banyaknya ia melakukan perkara sunnah baik berupa sholat, puasa, sedekah, haji, umroh dan lain sebagainya.

Allah berfirman: [Hingga Aku mencintainya].

Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan Allah jalla wa ‘ala dapat diraih dengan bersegera dalam ketaatan dengan mengerjakan amalan sunnah dan bersegera melakukannya setelah menunaikan amalan wajib serta mendekatkan diri kepada Allah dengan perkara sunnah tersebut.
Allah berfirman: [Jika Aku mencintainya]. kerana kecintaan Allah jalla wa ‘ala pada seorang hamba akan memberikan pengaruh. Apa pengaruh tersebut? [Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat…] dan seterusnya hingga akhir hadits. Para ulama Ahlusunnah menafsirkan perkataan Allah [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu bahwa Aku akan memberikan taufik dan meluruskan pendengaran dan penglihatannya, serta apa yang diperbuat oleh kedua tangannya dan ke mana kakinya melangkah. Makna kalimat [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu bahwa Aku akan memberikan taufik dan meluruskannya. Penjelasan seperti ini bukanlah sebuah penyimpangan makna. kerana ketetapan syariat yang tegas menunjukkan bahwa zat Allah jalla wa ‘ala tidak bercampur dengan makhluk dalam pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, tangan-Nya dan kaki-Nya Maha Suci dan Maha Agung Robb kita. Maka ketetapan syariat menunjukkan bahwa firman-Nya: [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu Aku memberikan taufik dan meluruskan pendengarannya. Apa yang didengarnya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk diperdengarkan. Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk dilihat. Apa yang dikerjakan dengan tangannya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk dikerjakan, demikian pula dengan langkah kakinya.

Orang-orang sufi ekstrem menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah bersatu dengan makhluk. Setelah firman Allah [Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan] mereka menambahkan redaksi hadits yang palsu yaitu: “Sampai-sampai jika ia berkata pada sesuatu, “Jadilah!” maka sesuatu tersebut akan terjadi.” Tambahan ini bersumber dari akidah hulul (keyakinan bahwa Allah bersatu dengan makhluk –pent). Tambahan ini diriwayatkan dengan sanad yang munkar. Bahkan sejumlah ulama menilai tambahan tersebut adalah maudhu’ (palsu).

Kemudian firman Allah, [Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi]. Yaitu, demi Allah, jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan. Kerana huruf “lam” pada kalimat ini merupakan isi sumpah dan sebelumnya ada kalimat sumpah yang dibuang. [Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan] yaitu, demi Allah jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan apa yang ia minta. Yaitu bahwa Allah akan mengabulkan doanya. [Jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi] ini adalah bagian dari kalimat sebelumnya. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk di antara hamba-hambaNya yang istimewa dan para wali-Nya.

Monday, June 23, 2008

Detik-detik Terakhir Kehidupan Insan Mulia

by Farhan Shah


Daripada Ibnu Mas'ud ra bahawasanya ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:"Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah."


Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."


Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila' la."


Kami bertanya lagi: "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait. Kami bertanya: Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah? Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah."


Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis. Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."


Semakin Tenat


Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya
selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Isnin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir. Sehari menjelang baginda wafat iaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: "Assalamualaikum ya Rasulullah?" Kemudian ia berkata lagi "Assolah yarhamukallah." Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit?" Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: "Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan sahaja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat."


Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra melihat ke tempat Rasulullah yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pengsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: "Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu? Siti Fatimah menjawab: Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka."


Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: "Ya ma'aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."


Malaikat Maut datang bertamu Pada hari esoknya, iaitu pada hari Isnin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali sahaja.


Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!" Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit." Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?"


Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil baginda, saya katakan kepadanya bahawa baginda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma." Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?" Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda." Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: "Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur."


Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan 'Assalamualaika ya Rasulullah." Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?" Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? "Saya tinggal ia di langit dunia?" Jawab Malaikat Maut.


Baru sahaja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat? Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah."


Ketika Sakaratul Maut


Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: "Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya? Jibril pun menjawab; "Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."


Baginda SAW bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku? Jibril menjawab lagi: Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."

Baginda SAW bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku? Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti."


Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?" Jibril as bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan? Rasulullah SAW menjawab: "Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"


Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu." Maka berkatalah Rasulullah SAW: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?" Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW.


Ali ra bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya? Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga.


Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut." Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?"


Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW. Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: "Ketika aku lalu di depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar daripada singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa'ir."


Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahawasanya Mu'az bin Jabal ra telah berkata: "Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana selama 12 tahun. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang, kemudian orang itu berkata kepadaku: "Apakah anda masih lena tidur juga wahai Mu'az, padahal Rasulullah SAW telah berada di dalam tanah." Mu'az terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu ia mengucapkan: "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim?" Setelah itu ia lalu mengerjakan solat.


Pada malam seterusnya, ia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama. Mu'az berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan?" Kemudian ia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman. Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'az berkata kepada mereka: "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku. Setelah Mu'az menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?" (Az-Zumar: 30).


Maka menjeritlah Mu'az, sehingga ia tak sedarkan diri. Setelah ia sedar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144)


Maka Mu'az pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad?" Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: "Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala."


Kemudian ia berkata: "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?" Lalu iapun pergi meninggalkan mereka. Di saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Lalu Mu'az mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'az bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah SAW? Orang tersebut menjawab: Wahai Mu'az, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Mendengar ucapan itu Mu'az terjatuh dan tak sedarkan diri.


Lalu orang itu menyedarkannya, ia memanggil Mu'az: Wahai Mu'az sedarlah dan bangunlah." Ketika Mu'az sedar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddik, dengan cop dari Rasulullah SAW. Tatkala Mu'az melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah. Mu'az sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'az menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sedarkan diri lagi.


Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy ra lalu ia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, ia adalah Mu'az yang sedang pengsan. Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu'az, lalu ia berkata: "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'az, aku telah mendengar dari Rasulullah SAW, baginda bersabda: "Sampaikanlah salamku kepada Mu'az." Maka Mu'az pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahawa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata: "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah ra."


Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu'az mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, ia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah. Kemudian Mu'az menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan: "Assalamualaikum ya ahli bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Mu'az bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah SAW."


Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Mu'az?" Ketika Mu'az melihat Siti Fatimah dan Aisyah ra ia terus pengsan dan tak sedarkan diri. Ketika ia sedar, Fatimah lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sampaikanlah salam saya kepada Mu'az dan khabarkan kepadanya bahawasanya ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Mu'az bin Jabal keluar dari rumah Siti Fatimah menuju ke arah kubur Rasulullah SAW.

Tuesday, June 17, 2008

Surat Fatimah

Bismillah-ir Rahman-ir Rahim
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Surat Fatimah gemparkan kota Baghdad

Fatimah adalah seorang saudara perempuan seorang mujahid yang terkenal di daerah Abu Gharib, yang berasal dari sebuah keluarga yang terkenal kebaikan dan ketaqwaannya. Suatu hari pasukan AS menyerbu rumahnya, dengan tujuan menangkap saudaranya. Namun karena mereka tidak dapat menemukannya, pasukan AS menangkap Fatimah dengan tujuan memaksa saudaranya menyerahkan diri.

Surat tulisan tangan Fatimah, baru-baru ini berhasil diseludupkan keluar dari penjara Abu Gharib, surat ini menggambarkan penderitaan para tawanan wanita akibat perbuatan tentera AS. Segera surat ini tersebar dan menggemparkan kota Baghdad, mengirimkan gelombang yang akan terus berlanjut ke seluruh Iraq!

Mafkarat al-Islam berhasil mendapatkan salinan surat tersebut.

Bismillahirrahmanir rahiim

*Say He is God the One; God the Source [of everything]; Not has He fathered, nor has He been fathered; nor is anything comparable to Him.* [ Qur*an , Surat 112 *al-Ikhlas*]

Saya menulis surat Al-Ikhlas ini karena mempunyai arti yang mendalam bagi saya, dan menimbulkan getaran di hati orang-orang yang beriman. Saudaraku mujahidin di jalan Allah* Apa yang dapat kukatakan padamu?


Saya katakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yang dilakukan keturunan kera dan babi itu. Mereka telah menodai tubuh kami, meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar.


Tidakkah kau mengerti tentang kejadian yang menimpa kami? Betulkah kau tidak tahu ini terjadi pada kami? Kami saudaramu, dan Allah akan meminta tanggungjawabmu tentang kejadian ini kelak.

Demi Allah, tidak semalam pun kami lewatkan di penjara ini kecuali mereka mendatangi salah satu dari kami untuk melampiaskan nafsu setannya. Padahal kami selalu menjaga kehormatan kami karena takut kepada Allah. Takutlah pada Allah! Bunuhlah kami bersama mereka! Hancurkan mereka bersama kami! Jangan biarkan kami di sini agar mereka bisa bersenang-senang. memperkosa kami, sesungguhnya ini adalah sebuah perbuatan dosa besar di sisi Allah. Takutlah pada Allah akan urusan kami. Biarkan (jangan serang) kereta kebal dan pesawat2 mereka. Datanglah pada kami di penjara Abu Ghurayb. Saya saudaramu karena Allah. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kali dalam satu hari. Bisakah kamu bayangkan? Bayangkan salah satu saudaramu diperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum menikah..

Semuanya telah diperkosa didepan mata kami semua. Mereka melarang kami untuk sholat. Mereka mengambil pakaian kami, dan membiarkan kami terlanjang. Saat surat ini saya tulis, seorang diantara kami telah bunuh diri setelah diperkosa beramai-ramai. Seorang tentara memukulnya di dada dan paha setelah memperkosanya, lalu menyiksanya. Gadis itu kemudian bunuh diri dengan memukulkan kepalanya ke tembok penjara, karena dia sudah tidak sanggup menerima ini. Meskipun bunuh diri dilarang oleh Islam, saya maklumi perbuatannya*

Saya hanya berharap, semoga Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Saudaraku, saya katakan padamu lagi, takutlah pada Allah. hancurkan kami bersama para tentara itu, agar kami bisa beristirahat dalam damai. Tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami

* Waa Mu*tasimah!.

Surat ini telah berakhir, namun penderitaan penulisnya dan para muslimah belum berakhir. Hatta mataa haadza s-sukuut !! Ini yang sudah kesekian kalinya terjadi..

Entah berapa lagi akan segera menyusul Kemaren, hari ini dan besok Begitu seterusnya..

Ya Rabb nasyku ilaika da'fa quwwatina

Wa qillata hiilatina

Allahumma n-shurna nashran adziima

Allahuma 'alaika bil haaula l-kuffar

Allahuma 'alaika biman adzaa l-muslimin.

catatan: sebarkan agar semuanya bisa mengetahui keadaan ini.

Wajazaakallahu khairan.

Didapati dari email lombong-pitis.com